Hukum Antara Secarik Kertas dan Keadilan

Diposting pada: 2012-10-30, oleh : Tim Jurnalist, edisi: Edisi 01 tahun 2012

HUKUM ANTARA SECARIK KERTAS DAN KEADILAN

Oleh; Hasuri

Hukum merupakan pilar  penting dalam kehidupan bermasyarkat, manusia tidak lepas dari aturan hukum yang juga sebagai kontrol dan mengatur tata pola kehidupan agar damai, aman dan tidak kacau. Hukum juga memaksa setiap orang untuk tidak mengganggu sesamanya, bila keamanan terganggu maka masyarakat akan kacau tidak harmonis antar sesama.

Begitu mulia cita-cita hukum menjaga harmonisasi kehidupan bermasyarakat tetapi menciptakan hukum yang diharapkan tak mudah seperti membalikan telapak tangan. Problem mendasar dalam penegakan hukum adalah hilangnya rasa keadilan bagi masyarakat, dalam praktek pelaksanaan hukum lebih penting sebagai legalitas atau secarik kertas yang berisi aturan-aturan mengikat.

Beberapa kasus mengingatkan kita betapa hukum terbelenggu oleh secarik kertas, tahun 2009 kasus Minah yang mengambil tiga buah kakao, Aal anak yang mencuri sandal aparat penegak hukum (polisi), Prita pasien yang mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang semuanya dilimpahkan ke pengadilan. Walau putasannya ringan sampai bebas tapi pelimpahan  kasus begitu cepat tanpa mempertimbangkan aspek sosial,semakin yakin bahwa hukum tajam kebawah dan tumpul (lumpuh) keatas. Dalih atas nama penegakan hukum rasa keadilan terpental, pengadilan tidak mendengar hati nurani rakyat miskin. Polisi, jaksa dan hakim memutus hukum berdasar hukum tertulis (law in book) bukan rasa keadilan, mereka (penegak hukum) hanya menjadi corong dan budak secarik kertas, bukan dewi keadilan yang mulia.

Mengutip tulisan almarhum Prof. Satjipto Rahardjo,  sifat hukum yang sangat menonnjol adalah sifat rasional (dan formal) hukum modren. Rasionalitas itu bahkan bisa berkembang sedemikian rupa sehingga pada tingkat “ rasionalitas di atas segala-galanya” (rationality above else), menjalankan atau menerapkan hukum secara formal. Jika sudah dijalankan dan berpegang pada undang-undang hukum sudah dianggap benar. Padahal putusan hukum yang benar  seirama dengan keadilan, dan keadilan didapat tidak hanya didasarkan dari teks undang-undang melainkan putusan yang didasarkan nurani dan berempati kemanusiaan.

Hukum yang berkeadilan

Keadilan merupakan suatu hal yang sulit untuk diartikan, menjadi sangat subyektif untuk mendefinisikan keadilan dengan  latar belakang yang beragam, seorang keluarga korban pembunuhan merasa adil jika pelaku pembunuhan dihukum berat, setimpal dengan perbuatnnya, lain lagi dengan tersangka pembunuhan baginya peringanan hukuman dan pembebasan merupakan keadilan yang diharapkan. Kant misalnya setuju dengan hukuman mati, sebuah keputusan yang ditarik dari pengertian keadilan.  Akan tetapi banyak orang yang tidak setuju dengan hukuman mati dan mereka adalah orang-orang yang adil. Tidak akan selesai memperdebatkan arti keadilan yang absolut, penulis mengutip beberapa pakar hukum mengemukakan arti keadilan, karena bagaimana mewujudkan suatu keadilan jika tidak mengetahui apa arti keadilan. Bagi Andre Comte, keadilan tidak lahir dari kehampaan, tetapi keadilan bagian dari sejarah. Menurut Notohamidjojo (1973: 12) keadilan protektif keadilan yang memberikan pengayoman kepada setiap orang, yaitu perlindungan yang diperlukan dalam masyarakat.Dalam pandangan intelektual muslim Nurcholis Majid, keadilan adalah ketetapan Allah bagi kosmos atau alam raya ciptaan-Nya, karena menurut ajaran Islam keadilan adalah prinsip yang merupakan hukum seluruh hajat raya. Oleh karenanya melanggar keadilan adalah melanggar hukum kosmos dan dosa ketidak adilan akan mempunyai dampak kehancuran tatanan masyarakat manusia. Ada beberapa factor yang menunjang  keputusan mendekati keadilan, diantaranya di dalam mengambil keputusan. Tidak berat sebelah dalam tindakan karena pengaruh hawa nafsu, angkara murka ataupun karena kecintaan kepada seseorang. Rasululah saw dalam salah satu sabdanya mengingatkan agar janganlah seorang hakim memutuskan perkara dalam keadaan marah,emosi yang tidak stabil biasanya seseorang tidak adil dalam putusan, memperluas pandangan dan melihat persoalannya secara obyektif, mengumpulkan data dan fakta, sehingga dalam keputusan seadil mungkin. Jika adil adalah sifat dan sikap Fadlilah (utama) maka sebagai kebalikannya
adalah sikap zalim. Zalim berarti menganiaya, tidak adil dalam memutuskan
perkara, berarti berat sebelah dalam tindakan, mengambil hak orang lain
lebih dari batasnya atau memberikan hak orang lain kurang dari semestinya.

Kepastian hukum merupakan alat ketercapaian keadilan, memang sulit untuk mencapai tujuan hukum tanpa bersandar pada kumpulan hukum (law in book), tidak mungkin tercapai rasa keadilan tanpa kepastian hukum dan tidak ada kepastian hukum tanpa menciptakan keadilan. tetapi undang-undang tidak bisa dijadikan dewa dalam penegakan hukum, dan hakim sebagai budak undang-undang. Hukum tanpa keadilan bagai sinyal yang sulit untuk dilihat tapi penting bagi pemancar.

 

FIAT JUSTIUTIA
PEREAT MUNDUS

 

                                                            Penulis adalah guru Di Ponpes Modren Assaadah

 


majalah Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk majalah ini